FAKTA NEWS – CERPEN. Gedung DPRD itu siang hari tampak lebih ramai dari biasanya. Para pejabat daerah, anggota dewan, hingga tamu undangan memadati ruang sidang untuk menghadiri rapat paripurna dalam rangka peringatan hari ulang tahun daerah.
Suasana berlangsung khidmat. Pidato-pidato penuh pujian tentang pembangunan dan kemajuan daerah silih berganti terdengar dari podium.
Di antara deretan kursi anggota dewan, duduk seorang oknum anggota DPRD yang juga dikenal sebagai Ketua Fraksi dari salah satu partai besar. Wajahnya tampak tenang, sesekali tersenyum dan berbincang dengan rekan di sebelahnya.
Tidak ada yang menyangka bahwa di balik sikapnya yang tampak santai, tersimpan cerita yang diam-diam menjadi bisik-bisik di lingkungan kantor legislatif itu.
Beberapa staf sebenarnya sudah lama menangkap tanda-tanda hubungan yang terlalu dekat antara sang anggota dewan dengan seorang wanita muda yang bekerja sebagai staf di sekretariat DPRD.
Mereka sering terlihat berbicara berdua di sudut ruangan, terkadang tertawa bersama di lorong kantor, bahkan tak jarang terlihat pergi hampir bersamaan saat jam kerja berakhir.
Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan hubungan itu bermula. Namun di lingkungan kantor, kabar tersebut perlahan menyebar seperti asap tipis yang sulit ditangkap namun terasa keberadaannya.
Semua tampak berjalan seperti biasa hingga siang itu.
Usai rapat paripurna selesai, para tamu undangan mulai meninggalkan ruang sidang. Para pegawai membereskan berkas, sementara sebagian anggota dewan masih berbincang di lorong gedung. Suasana yang semula formal perlahan kembali menjadi aktivitas kantor biasa.
Namun ketenangan itu tiba-tiba pecah.
Dari arah pintu masuk gedung DPRD, seorang wanita datang dengan langkah cepat dan wajah yang jelas menyimpan kemarahan. Ia bukan orang sembarangan.
Banyak yang langsung mengenalinya sebagai istri dari oknum anggota dewan tersebut. Lebih dari itu, ia juga dikenal sebagai seorang pejabat penting di pemerintahan daerah dengan jabatan setingkat Kepala Dinas atau eselon II.
Tatapannya tajam menyapu ruangan, seolah sedang mencari seseorang.
Beberapa staf yang melihatnya mulai saling pandang. Mereka merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.
Tidak butuh waktu lama.
Di salah satu sudut ruangan sekretariat, wanita pejabat itu akhirnya menemukan sosok yang ia cari seorang staf perempuan yang selama ini disebut-sebut memiliki kedekatan khusus dengan suaminya.
Tanpa banyak kata, emosi yang sejak tadi dipendam seakan meledak. Suasana mendadak panas. Suara tinggi terdengar menggema di dalam gedung yang sebelumnya masih dipenuhi aktivitas santai para pegawai.
Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi sontak terkejut. Ada yang langsung menghentikan pekerjaannya, ada pula yang hanya berdiri terpaku menyaksikan kejadian yang jarang terjadi di lingkungan kantor pemerintahan itu.
Perdebatan pun tak terhindarkan. Kata-kata keras saling terlontar. Para pegawai yang berada di sekitar lokasi berusaha mendekat untuk menenangkan suasana yang mulai memanas.
Nama sang anggota dewan yang menjadi pusat persoalan juga mulai terdengar disebut dalam kemarahan sang istri.
Situasi yang awalnya hanya menjadi bisik-bisik di balik meja kantor kini pecah terang-terangan di depan banyak orang.
Beberapa pegawai mencoba melerai dan membawa kedua wanita tersebut menjauh dari kerumunan. Namun kejadian itu sudah terlanjur menjadi tontonan bagi orang-orang yang berada di sekitar gedung DPRD.
Ruang yang sebelumnya menjadi tempat para pejabat berbicara tentang pembangunan daerah kini berubah menjadi saksi dari drama rumah tangga yang tak lagi tersembunyi.
Bagi banyak orang yang menyaksikan, kejadian siang itu menjadi cerita yang akan lama diingat di lingkungan kantor tersebut. Sebuah insiden panas yang terjadi tepat setelah rapat paripurna peringatan hari jadi daerah.
Sebuah drama yang tak pernah tercantum dalam agenda resmi DPRD, namun terjadi nyata di balik dinding gedung kekuasaan itu.
Peristiwa ini seolah menjadi pengingat bahwa jabatan, kekuasaan, dan kehormatan publik seharusnya berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral. Ketika seorang pejabat publik gagal menjaga integritas dalam kehidupan pribadinya, maka bukan hanya dirinya yang tercoreng, tetapi juga lembaga yang ia wakili.
Gedung DPRD seharusnya menjadi simbol kehormatan rakyat, tempat lahirnya keputusan-keputusan penting bagi kepentingan masyarakat.
Namun ketika konflik pribadi sampai meledak di dalamnya, publik tentu berhak bertanya apakah para pemegang amanah benar-benar mampu menjaga marwah lembaga yang mereka duduki?
Pada akhirnya, kepercayaan publik bukan hanya dibangun melalui pidato di ruang paripurna, tetapi juga melalui sikap, etika, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Karena bagi masyarakat, kehormatan seorang pejabat bukan hanya dinilai dari jabatan yang disandang, melainkan dari cara ia menjaga kepercayaan yang telah diberikan.
Bersambung.
![]()










