Faktanews.com, Pohuwato – Diperkirakan 150 hektar lahan pertanian warga di sejumlah Desa, di Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato terendam banjir. Hal ini diakibatkan buruknya pembangunan tanggul yang menjadi penyebab hingga masuknya air sungai ke lahan warga.
Salah satu Desa yang terdampak banjir tersebut adalah Desa Suka Makmur. Menurut Kepala Desa Suka Makmur, Badrun Yonu, pembangunan Tanggul yang dibangun oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo itu diakui hanya asal jadi.
“Kenapa demikian, karena memang setiap tahunnya ketika ada kejadian banjir seperti ini penyebabnya hanya jebol tanggul, jebol tanggul,” kata Badrun usai meninjau langsung lahan warganya yang terdampak banjir, Sabtu (25/9/2021).

Menurut Badrun, pihaknya dan masyarakat setempat tidak hanya menikmati begitu saja infrastruktur tanggul tersebut. Mereka juga ikut mengawasi dan sering menyuarakan hal ini terkait dengan sejumlah titik tanggul yang rawan jebol.
“Jadi kami tidak cukup untuk menikmati begitu saja tetapi kami juga ikut andil dalam hal mengawasi membantu instansi terkait apabila ada disalah satu tempat di tanggul yang ada di Suka Makmur ini, di tiga wilayah Desa yang ada di Patilanggio ini berpotensi akan jebol,” ujarnya.
Ia juga mengaku sering mendengar informasi dari masyarakat setempat bahwa material yang sering digunakan untuk pembuatan tanggul tersebut hanya mengambil material yang ada disekitaran tanggul itu.
“Terlihat jelas bahwa perbaikan ini menurut kami yang bukan teknisnya benar atau tidak yang pasti itu fakta yang kami lihat dilapangan ternyata lebih banyak material yang digunakan untuk perbaikan itu adalah material yang diseputaran tanggul itu,” ujarnya.
“Berikut kualitas perbaikannya itu yang masih tetap belum maksimal, contoh seperti yang kemarin yang sempat jebol yang seharusnya ketinggian yang memiliki ketinggian sampai 3 meter, setelah diperbaiki itu justru ketinggiannya berkurang,” ungkapnya.
Sehingga itu kata dia, jangan heran apabila tanggul yang sempat diperbaiki kemarin itu mengakibatkan air sungai meluap lewat tanggul yang ketinggiannya mulai berkurang, “Benar dia tidak jebol, tetapi airnya meluap, meluap itu karena diakibatkan tinggi dari pada tanggul itu sudah berkurang,”
Ia juga mengaku sudah mengkoordinasikan hal ini dengan Pemerintah Kabupaten Pohuwato.
“Kami pun sempat sama-sama mengawal bersama Pemerintah Daerah terhadap hal ini menyuarakan sampai pada ketingkat Pemerintah Provinsi, bahkan sampai ke instansi terkait yang menangani tanggul ini, tetapi begitulah,” terangnya.
Penulis: Surdin











