Scroll untuk baca artikel
Example 300x300
Example floating
Example floating
Hukum & Kriminal

Soal Kasus PETI DAM Pohuwato, Apa Benar Ada Upaya “Meredam” ?

×

Soal Kasus PETI DAM Pohuwato, Apa Benar Ada Upaya “Meredam” ?

Sebarkan artikel ini

FAKTA NEWS – POHUWATO. Dugaan adanya upaya meredam penanganan kasus Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah DAM, Kabupaten Pohuwato, semakin menyeruak ke permukaan.

Sorotan kali ini tidak hanya tertuju pada aktivitas PETI yang hingga kini terus menjadi persoalan serius, tetapi juga pada dugaan adanya upaya pelunakan penanganan setelah lima orang meninggal dunia dalam aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.

Example 300x300

Bagi sebagian masyarakat, persoalan ini sudah jauh melampaui urusan tambang ilegal. Karena ini menyangkut nyawa manusia dan keluarga yang kehilangan tulang punggung.

Dan yang paling penting, ini menyangkut pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang berada di balik aktivitas PETI tersebut.

Kepada Fakta News, salah satu narasumber yang meminta namanya tidak disebutkan mengungkapkan bahwa saat ini berkembang narasi mengenai penghentian atau pelunakan penanganan kasus PETI di wilayah DAM.

Menurut sumber tersebut, jika benar penanganan hanya berhenti pada pekerja lapangan atau operator alat berat, sementara pemilik lokasi dan pemodal utama tidak tersentuh, maka penegakan hukum dinilai belum menyentuh akar persoalan.

“Kalau hanya pekerja atau operator yang ditindak, sementara pemilik lokasi dan pemodal besar tidak tersentuh, ini akan menjadi persoalan yang terus berulang,” ujar sumber tersebut.

Menurutnya, narasi penghentian maupun pelunakan penanganan perkara tidak boleh menjadi jalan keluar untuk meredam kritik masyarakat.

Kasus PETI di wilayah DAM kembali membuka persoalan klasik mengenai bagaimana aktivitas pertambangan ilegal dapat bertahan dan terus beroperasi.

Narasumber tersebut berharap Polda Gorontalo dan Polres Pohuwato tidak ragu membongkar seluruh mata rantai PETI apabila ditemukan bukti adanya jaringan yang lebih besar.

“Polisi harus berani menindak pemodal besar dan oknum yang diduga menjadi pelindung. Jangan hanya tajam kepada pekerja kecil,” tegasnya.

Persoalan ini semakin mengerikan karena sumber tersebut menyebut bahwa dalam kurun waktu sekitar empat tahun terakhir, sedikitnya 17 orang telah meninggal dunia dalam berbagai insiden yang berkaitan dengan aktivitas PETI di wilayah Pohuwato.

Sebab ketika kematian terus berulang, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang berada di lokasi ketika kecelakaan terjadi.

“Mengapa aktivitas berbahaya tersebut terus bisa berlangsung?. Jika penindakan hanya dilakukan setelah korban berjatuhan, kemudian aktivitas kembali muncul di lokasi lain, maka yang terjadi hanyalah lingkaran setan.” Tegasnya

Di tengah tragedi tersebut, muncul pula informasi mengenai santunan duka yang disebut-sebut hanya sebesar 25 juta untuk masing-masing keluarga korban.

“Nyawa manusia tidak pernah memiliki harga. Tetapi angka tersebut memperlihatkan betapa getirnya nasib pekerja yang berada di garis paling depan aktivitas PETI.” Jelasnya

Sementara keuntungan terbesar dari bisnis pertambangan ilegal diduga berada di tangan pihak yang tidak selalu terlihat di lapangan.

“Mengapa pekerja kecil harus mempertaruhkan nyawa, sementara pihak yang memperoleh keuntungan terbesar justru berpotensi berada jauh dari lokasi?” Ungkapnya

Dengan adanya lima korban jiwa, aktivitas PETI di wilayah DAM seharusnya tidak lagi dipandang sebagai persoalan biasa, harus ditutup secara permanen.

“Jangan hanya sekadar dihentikan sementara dan ditutup ketika aparat datang atau ditunggu sampai perhatian masyarakat menghilang. Pemerintah bersama aparat penegak hukum harus memastikan tidak ada lagi aktivitas pertambangan ilegal yang kembali beroperasi di wilayah tersebut.” Tukasnya

Loading

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Akses berita Faktanews.com dengan cepat di WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029Vae1Mtp5q08VoGyN1a2S. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
Example 120x600